Home > Uncategorized > Mengenal Lebih Dekat sosok Anis Baswedan, Intelektual Multi Talent

Mengenal Lebih Dekat sosok Anis Baswedan, Intelektual Multi Talent

Apa dan Siapa Sosok Anis Baswedan?

Siapa sebenarnya sosok intelektual yang namanya dikenal luas sebagai Anis Baswedan ini? Anies merupakan anak pertama dari pasangan Drs. Rasyid Baswedan dan Prof. Dr. Aliyah Rasyid, MPd. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai dosen. Sang ayah adalah dosen fakultas Ekonomi UII Yogyakarta. Sedangkan ibunya mengajar di IKIP Negeri Yogyakarta.

Seperti yang dicatat Adhe Riyanto dalam buku The True Wisdom, 4 Pribadi Unik, Anies lahir pada 7 Mei 1969 di Kuningan, sebuah kota kabupaten di Jawa Barat, tempat kelahiran ibunya. Rasyid dan Aliyah kemudian mereka memberi nama anak pertamanya itu Anies. Menurut Rasyid, anies artinya teman duduk. Selain melambangkan ketaatan Seorang anak, nama itu juga dimaksudkan untuk mengenang nama kakak perempuan tercinta Rasyid yang benama Anisah yang saat itu Sudah meninggal.

Dalam perkembangannya, Anies tumbuh sebagai anak yang aktif. Ia sering kali bermain sepak bola di depan Gedung Pusat UGM. Namun ia juga lumayan nakal. Saat kanak-kanak, Anis tergolong anak yang kurang baik. Dia sering berkelahi dan diantara mereka ada yang ia pukuli sampai berdarah darah. Mungkin, di antara mereka banyak yang sebal, sehingga mereka kemudian mengeroyok anis kecil.

Sebagai ibu, Aliyah kerap merasa kasihan saat melihat Anies dipukuli teman temannya. Tetapi, sang ibu melihat keadaannya tidak membahayakan, jadi ia biarkan saja. Itu sebagai latihan Anies agar mampu menyelesaikan masalahnya sendiri

Aliyah juga mengakui bahwa Aniestergolonganakyangsangataktif dan tidak cengeng. Ia tidak mau hanya duduk manis dan diam. Akibatnya, ia sering kali terjatuh. Ia pernah terjatuh diteras rumah, dalam posisi kepala di bawah dan kaki diatas. Tapi ia tidak menangis. Anies kecil memang jarang sekali menangis. Ketika suatu kali tangannya terkena setrika panas sampai suatu kali tanganya terkena Setrika Sampai membergkak merah, ia juga tidak menangis. Padahal, Saat itu usianya baru tiga tahun dan berbicara pun masih cadel.

Menurut Aliyah, Anies baru menangis saatia merengek minta disekolahkan. Awalnya, Sang ibu kurang menggubrisnya, karena saat itu usia Anies baru tiga tahun. Ia pikir, anaknya itu hanya ingin sekolah, karena setiap hari menyaksikan anak anak lain yang masuk di Sekolah TK Bustanul Athfal, tidak jauh Dari rumah. Namun, ketika Anies setiap kali merengek minta dimasukkan kesekolah, Aliyah berusaha berkonsultasi dengan rahayu Haditono, psikolog kenamaan di Yogya.

Anies tumbuh dilingkungan keluarga yang sederhana. Pendidikan yang peka kondisi Sosial. Anies dan keluarganya tinggal di rumah kakeknya, Abdurrahman Baswedan, yang dikenal sebagai AR Baswedan, yaitu seorang jurnalis dan perintis kemerdekaan yang pernah menjabat Sebagai Menteri Penerangan serta anggota Dewan Konstituante. Sang kakek juga pendiri Partai Arab Indonesia.

Lingkungan kehidupan orang-orang pilihan di dalam keluarganya telah membuat Anies merasa kaya” sejak bocah. Dari kakeknya ia mendapatkan nilai nilai perjuangan, kemanusiaan, kejujuran dan Sebagainya. Sepanjang Sejarah di Indonesia, mungkin hanya kakeknyalah tokoh nasional yang hingga akhir hayatnya tidak mempunyai rumah.

Semasa Anies masih kecil, AR Baswedan tinggal di Taman Yuwono, kompleks perumahan yang dibangun bagi para pejuang Kemerdekaan. Kompleks yang terletak di Jalan Dagen, belakang Jalan Malioboro itu terdiri dari 20 rumah dan Sebuah lapangan tenis yang dibangun oleh Haji Bilal, seorang pengusaha batik. Di Jogja Rumah ini sebelumnya pernah didiami oleh Kasman Singodinedjo, M. Natsir, dan M. Roem. Di rumah itu tidak ada telepon, sepeda motor, apalagi mobil.

Dari kakeknya pula Anies kelak akrab dengan berbagai macam buku. Anis sangat suka membaca buku biografi. Buku biografi dari berbagai tokoh dunia telah menginspirasi langkah hidup Anies dimasa muda. Bahkan, ia Sempat beberapa kali memiliki cita cita yang kerap berubah seiring dengan biografi tokoh yang dibacanya.

Anies kemudian mulai bersekolah. Setiap hari ia diantar kakeknya. Seperti sudah diduga, ia belum sepenuhnya ingin Sekolah. Terkadang menggebu gebu ingin masuk Sekolah, tetapi dalam kesempatan lain tiba tiba mogok dan tidak mau masuk sekolah lagi. Menjelang usia lima tahun, barulah ia masuk TK Masjid Syuhada.

Setiap hari Anies diantar jemput oleh Gimin, tukang becak yang hampir setiap hari mangkal di dekat rumah kakeknya. Selain karena kedua orang tuanya bekerja, mereka juga ingin melatih Anies agar bisa lebih cepat mandiri.

Memasuki usia enam tahun Anies dimasukkan ke SD Laboratori, salah satu SD negeri terbaik di Yogya. Aliyah bercerita, Anies hampir tak mau berangkat di hari pertama karena belum dibelikan tas sekolah. Akhirnya sang ibu segera mencarikan tas untuk anaknya. Tetapi, setelah mulai masuk disekolah ini, Anies kembali berulah. Ia sering kali berkelahi sehingga Aliyah pun dipanggil oleh guru ke sekolah.

Anies berangkat ke sekolah dibonceng dengan sepeda. Umumnya, anak-anak disekolah ini naik sepeda sendiri, diantar dengan mobil pribadi, bus, dibonceng sepeda motor, atau diantar dengan becak. Rupanya, orang tuanya Sengaja memberikan pekerjaan antar jemput dengan sepeda itu kepada Puji, tetangganya, yang Saat itu Sedang menganggur. Diam diam,hal itu membuat Anies kurang percaya diri. Anis mengaku agak malu. Bagainana tidak malu, kalau dia satu Satunya murid yang diantar jemput dengan Sepeda?

Beruntung antarjemput dengan Sepeda itu hanya berlangsung Selama dua tahun, karena memasuki kelas tiga, Anies udah dibelikan sepeda sendiri oleh ayahnya. Bahkan Sejak Saat itu pula Aliyah tidak pernah lagi diundang guru ke sekolah. Meski hidup sederhana, Anies merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang luar biasa pada keluarganya. Masih terbayang jelas saat ia bersama dengan kedua adiknya menunggui ayahnya pulang. Mereka berharap ayahnya membawa kotak makanan dari rapat di kampus.

Di meja makan, hampir setiap hari ayah dan ibunya membiasakan makan bersama. Di tempat inilah kedua orang tua anies memberikan pendidikan kejujuran, keadilan, dan kebersamaan dengan cara sederhana. Jika saat itu lauknya telur dadar, maka salah Seorang di antara ketiga anaknya disuruh membagi dengan pisau. Tapi, bagi yang memotong itu, ia harus mengambil bagiannya paling akhir. Dengan demikian, ia selalu berusaha memotong telur dadar itu seadil mungkin, yaitu sama besar. Begitu juga kalau persediaan nasi terbatas, maka salah Seorang di antara ketiga anak itu harus membagi. Seperti juga saat membagi telur, untuk anak yang membagi nasi itu, ia harus mengambil bagiannya paling belakangan. Di meja makan, kedua orang tua Anies membiasakan terjadinya dialog. Rasyid dan Aliyah membiarkan anaknya mendebat pendapatnya, atau berbeda pendapat dalam suatu masalah. Sikap egaliter inilah yang membuat kedua adik Anies, kalau memanggil dirinya cukup dengan panggilan Anies, tanpa menambah dengan kata mas, abang, atau kakak.

Anies sangat terkesan setiap kali berlangsung acara Sekaten di Alun Alun Utara Keraton Yogyakarta dan Peringatan HUT Kemerdekaan RI di Jalan Malioboro. Untuk menuju ke tempat dua acara itu mereka cukup berjalan kaki, karena jaraknya tidak jauh. Setiap kali menyaksikan acara peringatan HUT Kemerdekaan, Anies selalu digendong diatas bahu ayahnya.

Anis suka sekali melihat drum band. Ia bahkan kemudian mengajak temantemannya bermain drum band. Mereka menggunakan kaleng kosong yang diikatkan ke tubuh mereka dan kemudian mereka pukuli dengan kayu. Mereka berbaris di lapangan tenis di dekat rumah, seperti drum band yang mereka tonton di Jalan Malioboro. Selain itu, Rasyid mengungkapkan, kalau ada di antara anak-anaknya yang tanpa Sengaja berbicara tentang Suatu judul film, diam diam ia biasanya lebih dulu menonton film itu.

Meski tinggal hanya sekitar tiga kilometer dari Keraton Ngayog yakarta Hadiningrat, keluarga Anies berbicara sehari hari di rumah dengan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa. Maklum, Aliyah, ibunda Anies, adalah perempuan Sunda. Meski berbicara dengan bahasa Indonesia, tatakrama dirumah tetap gaya Jawa Yogya, Anis dan adikadiknya mengerti bahasa Jawa dari lingkungan, walaupun bukan bahasa Jawa tinggi, atau Kromo inggil. Seperti saat kanak-kanak, ketika Sudah sekolah pun Anies masih tetap sibuk. Bersama teman temannya di Taman Yuwono, ia bermain sepakbola, mercon, kelereng, petakumpet, layang layang, dan Sebagainya. Ayahnya juga memasukkan Anies ke klub sepak bola PSGama.

Semakin besar, bakat kepemimpinan Anies semakin tumbuh. Ia cenderung mencari teman yang usianya rata-rata lebihtua daripada dirinya. Ridwan, adikAnies, sangat terkesan ketika kakaknya membentuk kelompok anak-anak muda (715 tahun) kampungnya yang diberi nama Kelabang (Klub Anak Berkembang). Saat itu usia Anies baru 12 tahun. Mereka membuat seragam lengkap dengan tulisan Kelabang dan gambar binatang kelabang (lipan, lalu mereka mengadakan berbagai kegiatan olah raga dan kesenian. Karena yang mempunyai inisiatif itu Anies, maka mereka semua sepakat untuk menunjuk Anies sebagai ketuanya.

Salah satu kegiatan Kelabang adalah membuat sekolah sepak bola. Anies membuat tulisan diatas papan bertuliskan Sekretariat Sekolah Sepak Bola, yang ia pasang didepan rumah. Di sekolah, sikap kepemimpinan Anies juga semakin tersemai. Ia beberapa kali dipercaya oleh teman temannya menjadi ketua kelas di SD Laboratori. Oleh kedua orang tuanya, Anies memang didorong untuk aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Dengan aktif berorganisasi, selain akan banyak belajar bagaimana mengelola manusia, tugas, dan perencanaan, ia juga akan terbiasa mendengar sesuatu yang tidak enak. Di dalam organisasi ia bisa berlatih menerima Suara Suara yang tajam itu.

Disadari atau tidak, berbagai aktivitas itu akhirnya agak mengganggu Anies di kelas. Ia tidak pernah mendapatkan nilai terbaik, walaupun masih masuk dalam urutan 10 besar di kelasnya. Kedua orangtuanya sudah memprediksi hal itu, ia memang tidak pernah meraih peringkat terbaik, tetapi ia mendapatkan sesuatu yang nilainya jauh lebih dari nilai di rapor itu.

Dari tahun ke tahun sikap kepemimpinan Anies semakin menonjol sehingga menarik perhatian para guru di sekolahnya. Itulah sebabnya ketika duduk di kelas lima dan enam, Anies ditunjuk oleh gurunya untuk berpidato saat acara shalat Idul Adha yang diselenggarakan disekolah.

Ada cerita unik ketika Anies akan mengikuti ujian SD. Berbeda dengan kebanyakan orangtua yang lain, saat anaknya akan menghadapi ujian, mereka umumnya menganjurkan anaknya tekun belajar Tetapi, tidak pada Rasyid. Saat esok hari harus mengikuti ujian akhir SD, sang ayah justru mengajak Anies dan kedua adiknya makan malam diluar

Toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman merupakan pengalaman sepanjang hidup Anies. Pengalaman masa kecil telah melepaskan ia dari kotak kotak yang diciptakan untuk menekankan perbedaan yang Satu dari yang lain, Ia tak hanya dilahirkan dari kalangan terpelajar, tetapi juga menemukan keteduhan dan lahan subur untuk menyemai bibit toleransi dan keberagaman melalui berbagai kegiatan orangtua dan kakeknya.

Itulah yang kemudian mengendap diruang batinnya dan menyatu sebagai prinsip serta sikap hidupnya. Hidup dalam keberagaman dengan sikap toleran adalah pelajaran yang penting bagi Anies. Ia ingat, Salah Satu Sahabat dekat kakeknya adalah biarawan dan budayawan Romo Mangunwijaya. Sedangkan, teman diskusi sehari hari kakek saya adalah almarhum Romo Dick Hartoko. Ketika sang kakek meninggal dunia di Jakarta, pada pengajian hariketiga, Romo Mangun khusus datang dari Yogya untuk hadir diacara pengajian dan berbicara disitu. Begitulah kakek dan kedua orang tua Anies mengajarkan nilai nilai keagamaan yang kuat, yang dalam keseharian mewujud Sebagai persahabatan, penghargaan pada perbedaan, toleransi, kejujuran, dan ketulusan.

Kelak, semasa SMA ia menetap selama satu tahun di Wisconsin, AS, dalam Program Pertukaran Pelajar AFS. Di sana, iatinggal bersama keluarga Katolik Jerman yang taat.

Pemuda Yang Sangat Sibuk

Dalam buku 4 Pribadi Unik dijelaskan, Anies memang mengaku sangat menyukai petualangan. Seperti anak-anak yang lain, semasa bocah, ia juga banyak bermain sepulang sekolah. Bersama Teman temanya, ia sering kali mengadakan penjelajahan, yaitu bersepeda menuju tempat tempat baru. Tempat tempat itu umumnya daerah pedesaan yang masih seperti hutan, yang terkadang masih ada ular maupun binatang buas lain. Petualangan ini karena sedikit banyak ia penyuka dan terkesan dengan film Tarzan.

Namun demikian Anies kerap merasa bersalah atas tindakan semasa remaja. Saat kelas dua SMP misalnya, ia sempat ditangkap polisi lalu lintas karena melanggar rambu lalu lintas saat mengendarai Sepeda motor Vespa milik ayahnya. Masalahnya, ia belum mempunyai SIM. Tak hanya itu, saat kelas tiga SMP pernah Anies mengendarai Vespa itu di Jalan Kaliurang, berboncengan dengan Anjang, la tahu, beberapa meter di depannya ada seorang bersepeda, Sehingga ia pun berusaha mengambil posisi lebih ke kanan. Tetapi, ketika motor Anies tepat berada di kanan sepeda itu, mendadak pengendara Sepeda iseng membelak – belokkan alat kemudinya. Karena kecepatannya agak tinggi, Anies tak sempat lagi menghindar dari pengendara sepeda yang sedang bermain main dijalanan itu. Tabrakan keras pun tak terhindarkan. Pengendara sepeda terpelanting dan pingsan, sementara Anies terjatuh dan menderita luka luka, tangannya bengkak dan tak bisa digerakkan.

Dibalik kenakalan khas remaja yang dilakukan Anies, ia termasuk murid aktif dalam organisasi siswa disekolahnya. Sebagaiketua Seksi Pengabdian Masyarakat, salah satutugasnya adalah mengabarkan dan mengumpulkan dana kalau ada anggota keluarga darisiswa, guru, atau karyawan disekolah itu yang sakit atau meninggal. Setiap kali ada yang mendapat musibah, ia langsung mendatangi kelas demi kelas disekolah itu.

Selain mengumumkan adanya musibah itu ke Seluruh kelas, Anies juga mengedarkan kotak amal untuk mengumpulkan dana. Setelah itu, ia memimpin teman – temannya mendatangi keluarga yang sedang terkena musibah untuk menyampaikan rasa duka cita dan Sumbangan.

Secara struktural, jabatan itu seolah tidak penting dalam organisasi siswa Sekolah. Tetapi, pada pelaksanaannya, justru Seksi inilah yang paling aktif. Tanggung jawab yang diemban Anies dengan baik ini telah berhasil menempa dirinya menjadi lebih dewasa dibanding usia yang sebenarnya.

Sebagai anak usia 13 tahun, Anies harus berbicara di kelas di depan guru dan puluhan siswa. Setelah itu, ia harus mewakili sekolah untuk menyampaikan rasa dukacita dan sekaligus Sumbangan. Dengan peran duka cita dan sekaligus sumbangan dengan perannya tersebut, semua siswa dan guru di SMP Negeri5 pun akhirnya mengenal Anies.

Saat duduk di bangku kelas dua, Anis pun terpilih sebagai ketua Panitia Tutup Tahun SMP Negeri. Acara yang diselenggarakan di Gedung Purna Budaya ini diadakan secara besar besaran dan megah. Untuk menyukseskan acara itu, ia harus melibatkan banyak personel.

Setamat SMP, Anies bersekolah di SMA Negeri 2. Di sini ia juga aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Beberapa bulan kemudian, ada pemilihan Ketua OSIS yang baru. Saat itu terdapat empat calon ketua, seorang dari kelas satu, dua orang dari kelas dua, dan seorang lagi dari kelas tiga.

Anies, yang baru tiga bulan bersekolah di tempat itu, terpilih sebagai calon ketua yang diajukan dari kelas Satu. la harus bertarung melawan tiga calon ketua dari kelas dua dan tiga. Pemilihan itu diselenggarakan secara langsung dan setiap calon ketua harus berpidato, mengajukan gagasan dan programnya masing-masing di hadapan Seluruh Siswa.

Anies berhasil menjadi pemenangnya, dengan selisih kemenangan yang Cukup besar Tetapi, kemenangan itu akhirnyadianuliroleh paraguru dan pimpinan Sekolah. Dalam sejarah sekolah itu, belum pernah ada anak kelas satu menjadi Ketua OSIS. Akhirnya diputuskan, pemenang urutan kedua adalah Novi, siswi kelas dua, yang menjadi Ketua OSIS yang baru. Anies ditunjuk sebagai wakil ketua.

Pada September 1985, sebagai Wakil Ketua OSIS SMA Negeri 2, Anies ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan di Jakarta. Acara ini sesungguhnya diperuntukkan bagi para ketua OSIS SMA dari seluruh Indonesia. Dari Yogya ada 10 delegasi, dan jumlah peserta dari seluruh Indonesia mencapai 300 orang yang di inapkan di sebuah hotel di Jakarta Selatan. Agar acara pelatihan berjalan lancar, maka ditunjuklah seorang ketua untuk memimpin acara itu. Hebatnya, meski Anies hanya sebagai wakil ketua OSIS masih kelas satu, ia terpilih sebagai Ketua OSIS SMA se Indonesia yang umumnya siswa kelas dua dan tiga.

Pengalaman ini sangat berkesan pada diri Anies. Selain terpilih sebagai ketua, di tempat ini pula ia bertemu dengan Menteri Pendidikan, Prof. Dr. Fuad Hasan. Meski sangat sibuk berorganisasi, Anies berhasil naik ke kelas dua pada 1986. Seperti saat di SD maupun SMP, Prestasi akademi Anies memangbukanyang terbaik, walaupun tetap diatas rata-rata. Namun, dengan kesukaannya membaca dan mempelajari bahasa Inggris, ia berhasil terpilih menjadi peserta AFS Program Pertukaran Pelajar Indonesia Amerika, pada 1987.

Selama satu tahun Anies tinggal di rumah Sebuah keluarga di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Untuk mengikuti pemilihan tidaklah mudah karena harus mengikuti berbagai tes. Dari Yogya hanya dua anak, Anies dan Rina, siswi SMA Muhammadiyah 1.

Saat tinggal di AS, Anies mengalami gegar budaya yang dahsyat. Amerika membawa efek yang besar bagi kehidupan Anis, dan membuka cakrawala yang sangat besar Cara berpikir saya menjadi lebih global.

Efeknya, Anies merasakan pergeseran yang luar biasa pada pemikiran pemikirannya saat masuk kembali ke SMA Negeri 2 pada 1988. Ia merasakan banyak kejanggalan dan ketidakadiian di sekelilingnya. Mendadak muncul pemberontakan pemberontakan. Disekolah, Anis pun merasakan banyak aturan yang tidak masuk akal, pelajaran membosankan, guru yang tidak mau diajak dialog, dan teman pun jarang yang Sejalan.

Beruntung Anies memiliki Aliyah, ibundanya yang penuh pengertian. Aliyah Sadar putranya itu tengah mengalami guncangan pemikiran yang luar biasa. Ia harus menghadapi putranya itu dengan sikap keibuan. Kesibukannya sebagai dosen pun ia kurangi agar bisa lebih fokus menangani putranya. Banyak acara penting yang sengaja dibatalkan demi mendampingi Anies yang batinnya tengah bergolak. Anis tiba tiba menjadi sangat tidak nyaman di lingkungannya sehingga ingin berontak. Mendadak Anis benci pada sekolahnya, karena keadaan sekolahnya sangat berbeda dengan di Amerika. Untunglah, Anies itu anaknya terbuka, sehingga semua permasalahan ia bicarakan dengan ibunya.

Menurut Rasyid, sang ayah, Anies juga sering melawan kalau diperlakukan tidak adil. Hal ini antara lain terjadi ketika pada suatu hari Anies membuat SIM ke kantor polisi. Saat ia harus membayar dokter, blanko formulir, dan berbagai persyaratan lain, ia tidak berontak karena semua itu disertai dengan kwitansi. Tetapi, ketika akan mengambil SIM yang sudah jadi, tiba tiba ia diharuskan memasukan uang ke kotak oleh petugas di situ. Anies menolak karena petugas itu tidak mau memberikan kwitansi. Ia bahkan diancam tidak akan mendapatkan SIM.

Pengalaman Anies meningkat lagi ketika pada Januari. TVRI Stasiun Yogyakarta pimpinan Ishadi SK membuat acara yang bertajuk Tanah Merdeka. Acara ini merekrut anak-anak muda untuk mewawancarai tokoh tokoh nasional. Anies termasuk salah satunya. Dari sinilah kekayaan batinnya terus bertambah Selain meningkatkan diri di bidang ilmu jurnalistik, ia juga bisa banyak belajar dari kehidupan orang-orang besar.

Satu per satu tokoh nasional didatangi dan di wawancarai oleh Anies, antara lain Sultan Hamengku Buwono IX, Tien, Soeharto, Sudomo, WS Rendra, Emil Salim, Taufiq Ismail. Namun, tidak semua program berjalan mulus. Pada Suatu hari Anies bersama teman temannya terkena masalah ketika Presiden Soeharto membuka acara Muktamar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Krapyak. Anies bersama timnya bermaksud mewawancarai. Tanpa sepengetahuan pimpinan, berangkat dengan mobil TVRI Yogya, dilengkapi kamera, menuju Gedung Agung tempat Presiden Soeharto dan para menteri menginap, lewat pintu belakang istana.

Karena mobil itu berlogo TVRI Yogya, meski belum ada rombongan Anies boleh masuk. Namun, begitu mendatangi kepala rumah tangga kepresidenan dan memohon izin untuk newawancarai Presiden Soeharto, Anies dan teman temanya dimarahi habis habisan. “Apaapaan ini? Tidak ada dengan Presiden” kata staf kepresidenan itu penuh kemarahan. Tetapi, dengan sikap tenang, Anies dan teman – temannya memberikan pengertian kepada pejabat tersebut. Setelah berdialog hampir satujam, pejabat tersebut akhirnya bisa mengerti.

Malam harinya rombongan Anies dipertemukan dengan Presiden Soeharto dan Ibu Tien, tetapi sekadar bertegur sapa. Sekarang Bapak capai, Nanti kapan – kapan di Jakarta saja, ya, anak-anak,” kata Ibu Tien. Meski demikian, Anies bersama teman – temannya tidak pulang dengan tangan hampa. Sekarang, kalau kalian ingin wawancara dengan pejabat Siapa pun, saya akan bawa kemari. Silakan mau pilih menteri Siapa” kata kepala rumah tangga kepresidenan.

Dalam waktu hampir bersamaan, Menteri Koperasi Laksamana Sudomo melintas di tempat duduk mereka. Anies pun spontan meminta tolong kepada kepala rumah tangga kepresidenan untuk bisa mewawancarai mantan Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) yang Sangat disegani itu.

Saat Anies bersama timnya dari Yogya berangkat ke Jakarta, Presiden Soeharto ternyata tengah berada di luar kota, kepala rumah tangga kepresidenan kemudian menawari Anies untuk mewawancarai Ibu Tien. Anies pun setuju. Saat Ibu Tien wafat, rekaman wawancara saya itulah yang berulang kali diputarulang di TVRI Pusat Jakarta.

Sejak usia remaja, Anies memang banyak bersinggungan dengan tokohtokoh besar nasional. Ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat, ratusan ribu pelayat memenuhi Alunalun Utara. Tetapi, Anies ingin sekali melayat dan bisa memasuki Siti Hinggil tempat jenazah Sultan disemayamkan.

Bersama Ridwan, Anies berusaha menjebol barikade lautan manusia yang meluber di Alunalun Utara hingga Kantor Pos Besar. Anies mengekor di belakang Ridwan yang bertubuhlebih besar, yang terus meringsek masuk. Usahanya tidak sia-sia. Mereka berhasil sampai di Siti Hinggil, meski dengan Sangat Susah payah.

Kebiasaan Anies melayat para tokoh pejuang terus dilakukan di masa Selanjutnya, meski ia sendiri secara pribadi tidak mengenal tokoh itu maupun keluarganya. Kebiasaan ini dilakukan mungkin, karena Anis sangat hobi membaca biografi. Ia memiliki rasa hormat cada para pejuang. Itulah sebabnyaketika K. Ali Maksum, pimpinan Pondok Pesantren Krapyak meninggal dunia, Anies berjalan kaki Cukup jauh dari Krapyak sampai ke tempat pemakamannya di Jalan Bantul. Dan, setiap kali ia menghadiri pemakaman para tokoh itu, ia seakan sedang menyaksikan betapa besar akumulasi pahala para tokoh itu.

Diganjar Berbagai Beasiswa

Selepas menamatkan pendidikan SMA, Anies sempat mengalami kebimbangan dalam meneruskan pendidikannya. Setelah berdiskusi dengan kedua orang tuanya, ia lantas memutuskan untuk memilih Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Semasa kuliah, Anies tak melulu menghabiskan waktunya untuk menimba ilmu. Berkat kemampuannya, ia dipercayasebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM. Ia menjadi satu dari sekian aktivis yang berhadapan langsung dengan barisan Serdadu pembela Soeharto, jauh sebelum Sang Diktator lengser pada 1998.

Kecerdasannya juga menghantarkan Anies mendapatkan beasiswa dari Japan Airlines Foundation, la pun berhak mengikuti kuliah musim panas bidang Asian Studies di Universitas Sophia, Tokyo, Jepang,

Selepas kuliah di UGM pada 1995, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas (PAU) Studi Ekonomi UGM. Lagilagi, berkat kecerdasan di bidang akademik, ia berhasii mendapatkan beasiswa Fullbright untuk pendidikan Master bidang International Security and Economic Policy di University of Maryland, College Park, AS. Sewaktu kuliah di sana, ia memperoleh William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award.

Berbeda saat kuliah di Indonesia, di AS Anies tidak terlalu aktif berorganisasi. Ia hanya ikut konferensi di beberapa tempat, seperti di Washington dan Atlanta. Itu pun saat menjelangakhir kuliah. Maklum, beasiswanya sudah paspasan untuk hidup sendiri, sementara ia harus hidup dengan istri dan dua anak.

Meski istrinya, Fery, mendapat beasiswa untuk mengambil program pendidikan master, tak urung uang mereka mepetjuga. Oleh karena itukeluargakecil Anies harus hidup hemat. Berbelanja harus teliti dan sesuai daftar barang yang dibutuhkan. Anies sampai menemukan cara merapikan baju tanpa harus disetrika. Selesai dicuci, baju itu dijemur sedemikian rupa sehingga, begitu kering, bentuknya seperti Sudah disetrika. Kalau mobil bermasalah, ia tidak berani membawa ke bengkel, karena biayanya mahal. Ia pun menjadi montir, sementara onderdil dibeli di tempat penjualan mobil bekas,

Tujuan utama Anies dan Fery berada di AS adalah untuk belajar. Sekolah di Amerika tidak mungkin tidak belajar, karena nilai harus tinggi. Kalau IP (Indeks Prestasi) turun, maka beasiswa bisa dihentikan. Bagi penerima beasiswa, minimal IP-nya harus 3,75. Dengan alasan semacam itu, setiap minggu Anies paling tidak harus membaca 1.000 sampai1.500 halaman buku. Ia merasa sangat beruntung mempunyai kedua orangtua dan kakekyang hobi membaca.

Selama di AS, Anies terlibat sebagai peneliti di pusatpusat kajian universitas, terutama yang berhubungan dengan masalah kebijakan dan pemerintahan. Ia juga aktif di dunia akademik dengan menulis sejumlah artikel menulis dibanyak jurnal internasional dan menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional. Ia menulis artikel artikel mengenai desentralisasi, demokrasi, dan politik Islam di Indonesia.

Anies selesai kuliah doktoral pada 2004, tetapi ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena tidak mempunyai cukup bekal. ia lalu bekerja di IPC Inc. di Chicago, sebuah asosiasi perusahaan elektronik sedunia. Karena Sudah doktor, ia diterima menjadi manajer riset dengan gaji sekitar 48,000 dolar AS setahun. Tetapi, ternyata uang yang ia terima tidak sebanyak itu, karena harus dipotong pajak, tunjangan hari tua, Social Security, dan Sebagainya.

Menurut Anies, setidaknya ada empat hal yang bisa dipetik mahasiswa Indonesia ketika bekerja di luar negeri. Pertama, ia akan mendapat pengetahuan baru. Kedua, ia bisa mengasah kemampuan berbahasa. Ketiga, ia bisa membangun relasi jaringan intenasional. Keempat, ia bisa mendapat modal baik dalam bentuk materi maupun pengalaman. Kalau langsung pulang, hanya dapat yang pertama saja.

Kalaupun ada mahasiswa yang menetap diluar negeri, kata Anies, itu karena ilmunya bisa optimal digunakan disana daripada di Indonesia. Menurutnya, dalam beberapa hal sarana di Indonesia masih minim.

Anies sendiri mengaku tidak pernah membayangkan dirinya meniti karir di luar negeri. la menilai kembali ke Indonesia setelah studi di luar negeri adalah sebuah keharusan. Buktinya, sepulang dari AS, ia menjadi penasihat pada Partnership and Goverment Reform, ialu terlibat dalam Lembaga Survey Indonesia (LSI, dan sekarang menjabat Direktur Eksekutif The Indonesian Institute.

Anis dan Istri Anis

tercatat baru saja merampungkan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) ketika ia memilih gadis terbaik untuknya. la memberanikan diri mengajak sang gadis pergi, dengan mobil tua orang tuanya, ia untuk pertama kalinya pergi berduaan dengan Seorang gadis.

Karena Fery adalah keponakan Aliyah, ibundanya gadis itu bernama Fery Farhati Ganis, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM. Anies sesungguhnya sudah mengenalnya. Anis dan Fery bertemu kembali saat keduanya diterima sebagai mahasiswa UGM pada 1989. Mereka sering kali bertemu dan mengobrol. Tempat kos Fery pun berseberangan dengan rumah orang tua Anis. Tapi, entah kenapa, hati Anis belum juga terusik melihat kecantikan sepupunya itu.

Mata Anis masih terus berusaha menelisikgadisgadis yang berselivveran di sekitarnya. Sebagai pemuda tampan, terkenal, dan pandai, sejak SMA Anis banyak digandrungi gadis gadis. Entah Sudah ada berapa Surat Cinta yang menyelinap di saku atau tas sekolahnya. Tetapi, semuanya dibiarkan lewat begitu saja. Ia bukan tidak ingin menikmati masa mudanya itu bersama gadis gadis cantik di Sekitarnya. Namun, ia selalu ingat pesan ayahnya, “Jangan coba-coba memulai sesuatu, kalau kemudian hanya ingin mengakhiri”.

Pesan itu sepintas terasa sangat sederhana. Namun, kalau diresapi, maknanya begitu dalam. Akhirnya Anies memutuskan untuk tidak berpikir tentang perempuan sampai ia menyelesaikan kuliah di UGM, Namun, bukan berarti Anies lalu mengenakan kacamata kuda. la terus mengamati gadis gadis disekelilingnya. Sebuah pengamatan panjang yang agak melelahkan, sekaligus mengasyikkan.

Ada banyak faktor kenapa Anies memilih berlabuh pada Fery. Sejak remaja ia acap kali berinteraksi dengan nenek dan ibunya, tentang peran ideal Seorang istri dan bagaimana membangun rumah tangga yang baik. Fery yakin, sebelum berbicara, Anis tentu sudah berpikir lama. Dan, meski cinta telah menyelimuti hatinya, mendadak berbagai pertanyaan menyerang benaknya. Terutama kesibukan Anis yang memang punya jam terbang banyak sejak muda. Kekhawatiran Fery akan dinomorduakan oleh kesibukan Anis sedikit demi sedikit mulai surut ketika Anis memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Ia baru tahu bahwa Anies itu orangnya sangat sabar, telaten, penuh pengertian, dan romantis. “You are a sweet girl”, seperti itulah cara Anis memuji Fery.

Anies merasa perasaan cinta itu berbeda dengan nafsu atau sekadar suka. Eksistensi cinta terasa bila jauh menjadi rindu. Walau komitmen keduanya sudah semakin bulat, mereka tetap menjaga untuk tidak selalu sering berduaan. Tepatnya, mereka jarang sekali berpacaran. Satu setengah tahun kemudian kedua orang tua Anies melamar Fery. Pada 11 Mei 1996, sejoli yang sama-sama baru pertama kali mengalami saling jatuh cinta ini pun menikah.

Pernikahan Anis dan Fery dikaruniai empat anak, yaitu Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam, dan Ismail Hakim. Keluarga ini sekarang bertempat tinggal di daerah Lebak Bulus, Jakarta. Mereka adalah keluarga yang hangat dan penuh kebersamaan. Setiap bulan Ramadhan, misalnya, sang ayah pasti akan lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga ketimbang harihari biasa. Makansahur Sudah pasti menjadi waktu pentingnya untuk makan bersama keluarga. Waktu berbuka pun menjadi waktu yang dinanti-nanti untuk berkumpul bersama keluarga.

Keakraban memang menjadi hal terpenting bagi Anies dan keluarga disaat Ramadhan. Hal yang sama pernah dialami Anies saat berada di luar negeri untuk menimba ilmu di amerika. Kendati berada di negeri orang, Anies tetap rutin ke Masjid setiap malam untuk membaca Al-Quran. Kini, sebagai seorang rektor dan akademisi Anies memang banyak disibukkan dengan berbagai kegiatan. Tak hanya bergelut dengan kegiatan akademik di kampus, ia juga kerap menjadi pembicara di berbagai acara seminar, baik dalam maupun luar negeri. Kehidupannya bersama Fery dan empat anaknya dijalani pada waktu yang sama dengan kesibukan yang terus menderanya.

Menjadi Rektor Termuda

Anis menjadi rektor dalam usia yang relatif sangat muda, 38tahun. Dalam usiayang belum mencapai50tahun, Anies adalah akademisi ternama di Indonesia dan dunia. Ia menjadi Rektor Universitas Paramadina Jakarta, analis politik, dan intelektual kelas dunia. Tulisan tulisannya dimuat di berbagai jurnal ilmiah naasional. Ia juga sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai konferensi dan Seminar internasional.

Pada November 2006 misalnya, ia menjadi utusan Indonesia pada Young Leader Summit (Konferensi TingkatTinggi Pemimpin Muda Asia) di Korea selatan. Lalu ia diselenggarakan oleh The Australian National university di Canberra, Selanjutnya ia menjadi pembicarapada the SAIS Conference on Elections and Democracy in Southeast asia bahkan dalam The Annual National Conference of Midwest political Science Association di Chicago, AS.

Sekembalinya ke Indonesia dari studi di doctoral AS anis aktif menjadi seorang peneliti di Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan menjadi Research Director di The Indonesian Institute. Ia juga aktif di Yayasan Paramadina. Ia memang tidak langsung mengajar diperguruan tinggi. Sesampainya di tanah air pada 2002, ia menyaksikan Indonesia yang sudah berubah, terutama di Jakarta. Menurutnya, dinamika sosial politik pasca reformasi terjadi begitu cepat sehingga ia memutuskan untuk memilih aktif dan menitikarier di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian Yayasan Paramadina meminta Anies untuk mencalonkan diri sebagai Rektor Universitas Paramadina (UPM). Alasannya, Yayasan Paramadina menginginkan sosok pemimpin dari generasi muda yang berpandangan jauh ke depan. Anis berpikir pencalonan dirinya initidak bakal lolos. Karena dalam calon itu Sudah ada nama Amal (Prof. Dr. Ichlasul Amal, Rektor UGM 1997-2002). Ia paling bantu – bantulah. Tapi ia malah betul – betul diminta untuk jadi rektor.

Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan Anies ketika ia mendapat tawaran menjadi Rektor UPM, yaitu apakah secara itelektual ia bisa tumbuh, apakah dirinya tetap bisa menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, dan apakah amanat ini mempunyai pengaruh sosial. Ia melihat, di kampus Paramadina, Anis bisa tumbuh secara intelektual dan posisi itu bisa mendorongnya berbagi kepada masyarakat. Tapi, Anis tetap perlu waktu untuk memutuskan tawaran tersebut. Sebagai Direktur Riset di The Indonesian Institute, penghasilannya jauh melampaui penghasilan sebagai seorang rektor

Beruntung Fery, istri Anies, tidak mempermasalahkan hal ini. Puncaknya, Anies berhasil menyingkirkan beberapa kandidat lain untuk menjabat sebagai rektor di UPM. Ia tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia pada usianya yang baru menginjak 38 tahun. Sejak saat itulah nama Anies Baswedan mulai dikenal banyak orang, takhanya dikalangan akademisi yang selama ini digelutinya.

Dengan prestasinya itu, Anies tetap merendah. Semua itu, katanya, adalah amanah. Baginya, mengelola sebuah institusi yang menciptakan generasi muda dengan kualitas baik merupakan sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Itu adalah alat untuk merekayasa masa depan bangsa dengan generasi muda yang baik. Tak pelak, jabatanyang dipegang saat ini Sudah sepatutnya disyukuri karena ia telah menjadi bagian dalam melahirkan generasi muda yang akan memimpin bangsa di masa mendatang. Sejak dulu, ia takpernah terpikir untuk menjadi seorang rektor. Namun Apa pun tugas yang diembannya Selama ini, selalu dilakukannya dengan Sebaik mungkin.

Pada 15 Mei 2007, ketika dilantik sebagai Rektor UPM, Anies bertekad menyiapkan generasi masa depan Indonesia. Memang begitu seharusnya. Bila ingin mengubah wajah negeri ini, harus fokus pada anak muda dan bidang pendidikan.

Ketika UPM didirikan oleh cendekiawan muslim Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Anies masih menjadi mahasiswa pascasarjana di University of Maryland, AS. Saat menghadiri wisuda di Boston, ia terkesan pidato Joseph Nye, Dekan Kennedy School of Government di Harvard University, yang mengatakan bahwa salah satu keberhasilan universitasnya adalah hanya menerima yang terbaik. Dari sinilah Anies kemudian menggagas rekrutmen anak-anakterbaik Indonesia.

Pada 2008 Anies merintis program beasiswa di UPM yang diberi nama Paramadina Fellowship. Program ini mengadopsi konsep yang biasa digunakan di universitas universitas di Amerika Utara dan Eropa dengan menyematkan nama sponsor sebagai predikat penerima beasiswa. Jika mahasiswa Amendapat beasiswa dari The Jakarta Post, yang memang menjadi Salah Satu Sponsor, misalnya, maka di belakang nama mahasiswa itu dicantumkan nama sponsor, menjadi A, Paramadina, The Jakarta Post Fellow. Predikat itu wajib digunakan dalam berbagai publikasi dan tulisan.

UPM menyiapkan suatu tim yang terdiri dari para dosen untuk menyeleksi siswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Mahasiswa penerima beasiswa tidak lepas hubungan dengan pemberi beasiswa sehingga tercipta jejaring lintas generasi, lintas Strata sosial ekonomi, dan lintas geografis. Lewat program beasiswa ini jejak untuk masa depan dibangun bersama.

Namun, niat luhur itu tentu bukan seperti membalikkan tangan. Beasiswa yang dirancang itu sangat mahal, yaitu bagi mahasiswa Jabotabek Rp 65juta, dan Rp 110 juta untuk mahasiswa dari luar Jabotabek (per tahun 2008). Perhitungannya, Rp 13 juta untuk biaya tahun pertama, dan sisanya diinvestasikan. Keuntungan investasi itu bisa mencapai Rp 30 juta, dan ini bisa dipakai untuk dana abadi.

Anies Sadar betapa Sulit meyakinkan para calon sponsor beasiswa, karena dunia pendidikan dan bisnis memiliki bahasa” yang berbeda. Ia mempresentasikan idealisme dengan bahasa bisnis. Namun ide ini akhimya mendapat sambutan dari para donatur, baik pribadi maupun institusi.

Anis mengingat, ia tak mungkin mendapatkan yang ia dapatkan sekarang tanpa beasiswa. Sekarang inilah waktu untuk membayar kembali semua yang pernah ia dapatkan. Hubungan mahasiswa dan perguruan tinggi tak boleh dipandang sebagai hubungan transaksional komersial. Selama universitas memandang dirinya sebagai penjual jasa pendidikan dan memandang mahasiswa sebagai pembeli jasa pendidikan, maka komersialisasi pendidikan akan terjadi. Pendidikan tinggi di Indonesia harus memandang dirinya sebagaipendorong kemajuan bangsa dan memandang mahasiswa sebagai agent of change, karena anak-anak muda bangsa ini yang akan meneruskan perjuangan bangsa. Universitas Paramadina memilih mengambil peran menghasilkan agent of change. Pengelolaan pendidikan memang mahal. Itu tantangan bagi pimpinan universitas auntuk kreatif membuat modelmodel pendanaan alternatif, baik dari pemerintah maupun swasta. Tantangan seperti ini tidak baru. Di negara-negara kapitalis saja pendidikan tinggi tetap dikelola sebagaipendorong kemajuan masyarakat. Bagi Anies, lulusan perguruan tinggi yang baik bukan yang setelah lulus berlomba membuat CV (Curriculum Vitae) sebagus mungkin. Baginya, mahasiswa harus dapat membuat proposal bisnis ketika lulus. Harapannya, mereka bukan mencari pekerjaan kelak tetapi akan membuka lapangan pekerjaan.

Menurut Anis, mahasiswa memiliki tiga karakter utama, yakni intelektualitas, moral dan keoposisian. Selama ini, dua karakter terakhir sudah dapat dikatakan tuntas. Munculnya pergerakan organisasiorganisasi mahasiswa menunjukkan karakter oposisi mahasiswa. Meski kadang terlihat anarkis, mahasiswa telah mengerti batasan batasan moral yang harus dijaga. Namun karakter intelektualitas masih belum dihayati. Implementasi karakter tersebutadalah kemampuan menulis dan berbahasa internasional.

Anies menegaskan bahwa dalam satu waktu, Seseorang bukan hanya warga sebuah negara, tetapi juga menjadi warga dunia. Dengan kesadaran menjadi warga dunia, mahasiswa dapat melihat ke depan.

Menurut Anies, kompetitor mahasiswa Indonesia bukanlah mahasiswa lain dari perguruan tinggi terkemuka di Tanah melainkan mahasiswa mahasiswa yang merupakan lulusan Melboume, Chicago, Tokyo, dan lain lain yang memiliki kenampuan bahasa, ilmu pengetahuan, dan jaringan internasional luas menurutnya saat ini harus ada kesadaran melampaui Indonesia, beyond Indonesia. Dalam dunia akademik yang kompetitif seperti itu, maka kemampuan menulis menjadi hal yang sangat penting. Penyampaian ide dalam bentuk tulisan akan berharga sekali. Bahkan menurutnya dalam membangun peradaban, kemanpuan menulis menjadi fundamental. Selain itu, kemampuan zerbahasa internasional akan membantu mahasiswa untuk menyampaikan ide idenya. Di era globalisasi, akumulasi pengetahuan jangan Sampai sia-Sia hanya karena dua Syarat itu diabaikan.

Menurut Anies, sikap optimistis perlu diambil dalam memandang bangsa Indonesia. Optimisme Seharusnya menjadi prioritas bagi generasi muda. Pemuda Indonesia telah mengawalinya ketika terselenggara Konferensi Pemuda II pada 28 Oktober 1928. keputusan untukmenjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah keputusan jenius. Oleh karena itu, banyak urusan bangsa menjadi sederhana karena bahasa tersebut dapat diterima seluruh rakyat.

Anies menyatakan bahwa bagaimanapun kondisinya, bangsa Indonesia harus disikapi dengan kritis dan optimistis. Selain itu, cara pemuda perlu fokus pada inspirasi tentang kemajuan bukan cerita masa lalu. Pandangan yang perlu dijadikan prioritas adalah bahwa bangsa Indonesia perlu memiliki perasaan kolektif positif untuk maju dan berkembang. Pesimisme seharusnya dikuburlalu munculkan optimisme.

Realitas bangsa, menurut Anies, Seharusnya dipandang dengan Sudut pandang optimisme. Meskipun demikian, media perlu menggandakannya agar menjadi optimisme kolektif Seluruh elemen bangsa. Jangan Sampai Semangat optimisme itu dikalahkan oleh budaya korupsi. Janji kemerdekaan telah dilunasi oleh pendahulu bangsa. Bangsa Indonesia harus bekerja lebih keras untuk melunasi janji kemerdekaan bagi Seluruh rakyat Indonesia.

Program beasiswa di UPM ternyata mendapat respon yang Sangat bagus. Dukungan secara pribadi ataupun institusi dari berbagai sektor sungguh mengharukan, Hal ini membuktikan bahwa dunia usaha peduli pada masa depan bangsa,” kata Anies. Donatur yang datang memang beragam; pribadi, lembaga Survei, perusahaan media massa, perbankan, sampaijaringan bioskop.

Sambutan calon peserta beasiswa pun luar biasa, Pada 2008, seleksi di 14 kota di seluruh Indonesia diikuti oleh 1.300 pendaftar. Dari jumlah tersebut akhirnya terpilih 69 lulusan SLTA, yang nantinya diharuskan merampungkan pendidikan maksimal selama empat tahun dengan Indeks Prestasi minimal tiga. Untuk tahun 2009, UPM menjaring 100 mahasiswa penerima beasiswa, sehingga dengan peserta beasiswa untuk program pascasarjana (di berbagai universitas, jumlah seluruh peserta Paramadina Fellowship adalah hampir 25 persen dari 2.000 jumlah mahasiswaUPM. Terbukti Anies memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi generasi muda di Indonesia.

Intelektual Nasional dan Dunia

Di tengah buruknya situasi Indonesia di mata dunia internasional, berutunglah masih ada Orang macam Anis. Alangkah rindunya bangsa ini untuk kembali diperhitungkan dunia. Diplomasi buruk, politik luar negeri yang saratkecaman, hingga frustasi minimnya prestasi olahraga, membuat Indonesia seperti berada dititik nol dalam pergaulan dunia. Tapi, Seorang anak bangsa masuk daftar para ilmuwan, pemikir, dan aktivis paling berpengaruh Seantero jagat:

100 Intelektual Publik Dunia, Foreign Policy (Mei 2008)

Seperti yang ditulis, Adhe Riyanto, dunia pendidikan rnemang tak bisa dipisahkan dari kehidupan Anies. Usahanya dalam memajukan pendidikan telah memikat perhatian masyarakat internasional. la dipandang memiliki prestasi dan komitmen dalam memperbaiki keadaan masyarakat.

Pada April 2008, majalah Foreign Policy dari AS memilih Anies Sebagai Satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar Top World 100 Public Intellectuals” (100 Tokoh Intelektual Publik Dunia). Ini mengagumkan, karena ia berada sejajar dengan tokoh tokoh terkemuka di dunia, seperti Fetullah Gulen, Yusuf al-Qardawi, Juergen Habermas, Thomas L. Friedman. Samuel P. Huntington, Francis Fukuyama, Muhammad Yunus, Salman Rusdhie, Orhan Pamuk, Aitzaz Ahsan, Noam Chomsky, Al Gore, Paus Benedictus XVI, Lee Kuan Yew, Noam Chomsky, Amartya Sen, maupun Vaclav Havel.

Foreign Policy adalah majalah dua bulanan yang diterbitkan pertama kali pada 1970 oleh Samuel P Huntington dan Warren Demian Manshel. Penerbitnya juga lembaga terkenal di Washington DC, yakni Carnegie Endowment for International Peace. Topik yang diulas di majalah ini mencangkup politik global, ekonomi, integrasi, dan ideide. Pada awal 2006, majalah ini melebarkan sayap dengan membuat sebuah blog, yaitu Foreign Policy Passport. Setiap tahun majalah ini selalu ditunggu karena mempublikasikan Indeks Global, “Negara Gagal, serta laporan khusus tentang Idelde Paling Berbahaya di Dunia”

Kriteria daftar bergengsi Top World 100 Public Intellectuals” adalah aktivitas publik intelektualitas dari nominator yang tak hanya berpengaruh di dalam negeri, tapi harus melampaui batas negaranya. Komposisi yang terpilih adalah 36 dari Amerika Utara, 30 dari Eropa, 4 dari Amerika Latin, 11 dari Timur Tengah, 4 dari Afrika, 12 dari Asia, dan 3 dari Asia Tenggara dan Oseania. Hasil voting yang melibatkan 500 ribu responden di seluruh dunia menempatkan Anies Baswedan pada posisi ke60.

Anies sendiritak menyangka namanya berada di daftar bergengsiitu. Ia merasatak pernah punya hubungan dengan majalah yang memuat namanya tersebut. Ia tak pernah diwawancara dan, bahkan, tak satu artikelpun yang ia tulis pernah dimuat disana.

Di antara beberapa kualifikasi yang menjadi dasar pemilihan tokohtokoh dunia itu, Anies tak merasa memenuhinya, Satu-satunya kualifikasi yang cocok cuma mudanya saja, katanya merendah.

Anies juga mengatakan bahwa penghargaan itu bukan semata-mata prestasi dirinya tapi merupakan prestasi kolektif yang dicapai oleh bangsa Indonesia. Sebagai orang yang berobsesi ingin menjadi seorang intelektual berkelas internasional, Anies tentu Sangat Senang dengan penghargaan tersebut. Menurutnya, bangsa Indonesia sudah lama memiliki tradisi intelektual. Tokoh tokoh seperti Soekarno, Sutan Sjahrir, Agus Salim, dan lain lain tersohor dikalangan internasional.

Young Global Leaders 2009, The World Economic Forum (Februari 2009)

Tidak hanya itu prestasi yang dicapai Anis. Pada 2009 Anies mendapatkan penghargaan sebagai salah 2009″ Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum atau WEF).

Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang

Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar ini diantaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-lndia Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley, dan pebalap F1 Michael Schumacher.

20 Orang Berpengaruh Tahun Ini, Foresight (Jepang), 2010

Prestasi Anis juga tertacat pada majalah terbitan Jepang. Pada April 2010, Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang.

Majalah ini menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan akan menjadi perhatian dunia dan membawa perubahan dunia dalam dua dekade mendatang. Anies masuk dalam deretan nama tokoh dunia lainnya, seperti, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekretaris Jenderal Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda AS, Paul Ryan dari Partai Republik dan anggota House of Representative AS

Majalah bulanan Foresight diterbitkan salah satu penerbit tertua Jepang, Shinchosha, dan merupakan majalah berkualitas prima yang mengulas berita dan analisis politik terbit pada Maret 1990 atau bersamaan dengan berakhirnya Perang Teluk I, Foresight memiliki jaringan yang tersebar di 30 an negara di dunia. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil keputusan, pengusaha, diplomat dan wartawan berpengaruh di dalam dan luar Jepang, karena mengulas isuisu penting seperti ekonomi China, terorisme, hubungan China Taiwan, Perang di Irak, dan industri otomotif Jepang

Majalah Foresight memiliki kontributor kenamaan, seperti Geriad Curtis dari Columbia University (AS), Lester Brown dari the World Watch Institute, Victor Cha dari Georgetown University (AS), dan Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh. Adapun di antara kontributor Jepang termasuk novelis Nanami Shiono dan Haruki Murakami, Juga Dr. Takeshi Yoro, kolumnis Nikkei Yasuhiro Tase dan Profesor Shinichi Kitaoka yang kini menjadi Duta Besar Jepang di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Menurut Foresight, Anis Baswedan adalah salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang, Versi Foresight, Anis merupakan seorang muslim moderatyang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu. Bahkan, karena citranya yang netral, adil, Serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik yang menarik, Anies bukan saja Satu-Satunya orang dari Asia Tenggara melainkan juga Satu-satunya pendidik dalam dattar di Foresight tersebut.

Gagasan Baruuntuk Indonesia

Dari keterangan diatas, wajarlah jika Anis dinobatkan sebagai intelektual sekaligus tokoh muda Indonesia berpengaruh. Dunia intrmasional menghargai Anies bukan hanya karena intelektualitasnya yang cemerlang, tetapi juga karena keterlibatannya dalam berbagai kegiatan yang mendorong demokratisasi di Indonesia. Sejak mahasiswa, ia memang terlibat dalam gemuruh perubahan. Sebagai anak muda, ia memendam kegelisahan, derap langkahnya adalah perubahan.

Anis pantas dijadikan contoh dan teladan bagi generasi muda. Para pemuda hendaknya memanfaatkan masa produktifnya dengan cara membekali diri dengan potensi yang dimilik pergerakan juga harus dilandasi intelektualitas yang memadai. Jangan Sampai kegiatan tersebut hampa, hanya berorasi tanpa memberikan solusi. Akhirnya, letupan emosi tak terkendali berubah menjadi anarki sehingga kegiatan mulia malah kontraproduktif karena ternoda.

Apa yang dilakukan Anis adalah perjalanan memanfaatkan masa muda dengan halyang berguna bagi masyarakat. Bangsa Indonesia membutuhkan banyak anak – anak muda sepertinya. Menurut Anis, kondisi pendidikan nasional Saat ini jauh lebih maju dibanding masa awal kemerdekaan Indonesia.

Saat merdeka, 95 persen rakyat butahuruf. Sekarang, tingkat buta huruf hanya delapan persen, la berkata, “Tak banyak bangsa yang bisa mengonversi populasinya dari total illiteracy menjadi total literacy. Prestasi lain, angka partisipasi pendidikan dasar hampir setara dengan negaranegara di Asia yangberpenghasilan per kapita lebih tinggi.

Melalui ekspansi yang cepat, sistem pendidikan kita menunjukkan tingkat cakupan yangtinggi, Dalam tiga dekade terakhir, jumlah mahasiswa meningkat signifikan. Itu prestasi kolosal dan kita boleh bangga. Tapi daftar masalah panjang belum terselesaikan masih panjang.

Fasilitas pendidikan, kualitas pendidikan, dan akses pendidikan adalah elemen utama. contohnya, guru masih kekurangan walau jumlahnya Cukup banyak. Distribusinya belum merata. Survei Bank Dunia menyebutkan 34 persen sekolah di Indonesia masih kekurangan guru, dan 66 persen sekolah didaerah terpencil kekurangan guru.

Secara konstitusional, kata Anies, pendidikan adalah tugas pemerintah. Pendidikan harus bisa membentuk manusia yang memiliki nilai kepribadian, baik rasa kebangsaan yang tinggi, menguasai ilmu pengetahuan, dan berwawasan global. Namun, pendidikan bukan hanya tugas pemerintah. Mendidik adalah kewajiban moral setiap orang terdidik. Pendidikan adalah Gerakan Semesta, semua orang perlu turun tangan. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional hanya Satu dari usaha perbaikan, namun bukan satuSatunyayang paling berperan.

Pendidikan, menurut Anies, seharusnya tidak sekadar megah, tetapi yang terpenting adalah mampu melahirkan pemimpin – pemimpin yang peduli dengan rakyat kecil dan memiliki integritas tinggi. Industrialisasi pendidikan yang berlangsung saat ini telah meminggirkan kaum miskin karena hanya mereka yang datang dari kelas menengah ke atas yang dapat memperoleh pendidikan baik. Padahal, pendidikan adalah hak setiap orang.

Pendidikan adalah instrumen untuk merekayasa statussosial masyarakat. Oleh karena itu, untuk meningkatkan status sosial masyarakat yang berada dibawah, maka pendidikan harus dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Bagi Anies, Indonesia yang damai hanya akan dicapai tatkala ada upaya bersama untuk menanggulangi kemiskinan dan kesenjangan yang kian menganga antara kaya dan miskin.

Tinjauan Politik Anis

Lantas, bagaimana pemikiran Anies mengenai politik dan demokrasi?

Anis pernah membuat analisis perjalanan demokratisasi Indonesia setelah 10 tahun reformasi. Ada aktivitas terkait perjalanan demokratisasi selama 10 tahun, dimana analisis demokrasi negara maju dan berkembang. Meski demikian kajian tentang demokrasi di tingkat internasional masih cukup sedikit. Malah yang banyak muncul kajian demokrasi yang sifatnya domestik. Anies terlibat dalam gelombang demokratisasi sejak mahasiswa. la menolak otoritarianisme Orde Baru. Meski aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), temannya berasal dari berbagai kalangan. layang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada itu memahami Indonesia sebagai negara dengan keberagaman yang tinggi, baik dari suku, etnis, agama, kelompok, maupun geo – sosial – ekologi.

Untuk mengelola keberagaman, ia pernah simulasi membuat pameran masjid di Jerman bekerja sama dengan Goethe Institute. Iaingin menyampaikan pesan, untuk mampu berbuat fair, adil, kita harus mampu melihat dari perspektif minoritas. Warga Muslim di Jerman takakan bisa membangun masjid kalau tak ada penghargaan akan hak-hak beragama, penghargaan pada keberagaman, dan toleransi.

Dengan mempresentasikan kehidupan warga Muslim sebagai minoritas untuk menyadarkan Muslim mayoritas. Dengan begitu, ketika kita membuat aturan dan kesepakatan, harus digunakan perspektifsebagai mayoritas ataupun minoritas. Agama dan budaya harus dipandang sebagai sumber nilai yang tinggi, tak bisa direduksi dan disederhanakan menjadi hukum teknis.

Anis menolak politikyang membawa agama. Alasannya, begitu agama dibawa ke ranah politik, segera terjadi distorsi. Wilayah politik adalah tempat menegosiasikan perundingan, dan karena itu, akan ada banyak kompromi. Kalau mencampur adukkan antara agama dan politik, dalam arti negara dipaksa menjadi representasi agama, iniyang semestinya tidak boleh, karena negara berhadapan dengan kesejahteraan rakyatyang menjadi jembatan antara nilai agama dan realitas adalah manusia. Maka, manusia harus mampu menerjemahkan gagasangagasan dari nilai ke dalam realitas, dan bukan sebaliknya.

Mempelopori GIM

Anis berharap oraganisasi organisasi kepemudaan atau kemahasiswaan mengevaluasi dan merevisi cara cara penjaringan keanggotaaanya Serta pendidikan dan pelatihannya. Organisasi organisasi jenis itu saat ini hanya melakukan atau menurunkan tradisi keorganisasian. Tahukan Anda, materi materi diklat dikat yang dilaksanakan sama dengan materi materi 25 tahun lalu, yang hanya cocok pada zaman itu. Bagaimana bisa menghasilkan pemimpin yang tampil dengan pendekatan dan ide baru,” katanya, sambil menyebut beberapa nama organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.

Lebih lanjut Anies meminta dibedakan antara sikap optimis dan pro pemerintah, serta sikap kritis dan pesimis. Jangan juga melihat pemimpin hanya pada seorang presiden, Sebab pemimpin itu banyak bukan cuma presiden. Sayangnya, masyarakat Saatini dibombardir dengan pemberitaan media massa, khususnya media elektronika, yang berkonotasi negatif sehingga masyarakat terkungkung dalam rasa pesimisis.

Menurut Anis, semua pihak harus bersikap optimis yang sesuai dengan realitas. Dan setiap orang yang menjadi pimpinan harus menebarkan sikap optimis. Anies mengingatkan bahwa pada awal kemerdekaan Indonesia, 80 persen rakyat Indonesia buta huruf. Saat ini angka buta huruf tiga delapan pesen, itu pun banyak pada usia lanjut. Ini Sebuah pencapaianyang luar biasa, yang tidak bisa disamai negara mana pun. Alasannya, para pemimpin dahulu tidak mempidatokan tentang ketepurukan rakyatnya. Bung Karno tidak mempidatokan tentang rakyatnya yang buta huruf, tetapi dia mempidatokan mari kita raih masa depan, mari kita memberantas buta huruf. Semua pemimpin harus menebarkan optimisme kepada masyarakat, termasuk para pemimpin di media massa.

Demikianlah Salah satu pemikiran Anies tentang masyarakat Indonesia. Sejauh ini, kemurnian Anies sebagai akademisi yang peduli dengan pendidikan di percaya belum terkontaminasi dengan hiruk pikuk perpolitikan nasional. Ia tetap konsisten pada idealisme nya mengangkat kehidupan masyarakat melalui pendidikan agar semakin terdidik.

Anies adalah tokoh moderatyang tetap pada pendirian dan tidak memihak pada kekuatan politik. oleh karena itupula ia dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi anggota Tim 8 dalam kasus sangkaan pidana terhadap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, yaitu Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah. Meski Anies bukan pakar hukum, ia dipilih menjadi Juru Bicara Tim. Penyampaiannya yang sistematis, tenang, dan obyektif dianggap turut membantu menjernihkan Suasana dalam suhu politik yang memanas Saat itu.

Anisj uga sangat peduli dengan masalah pendidikan di Indonesia. Sebagai seorang akademisi, ia melihat bahwa pendidikan yang ditunjang oleh kemandirian dalam pembiayaan adalah Suatu keniscayaan. Walau pada awal berdirinya, perguruan tinggi memang perlu dibiayai pemerintah, tetapi dalam perjalanan selanjutnya harus dapat mandiri. Bahkan, dalam hal ini, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu menerjemahkan bahasa pengelolaan pendidikan dalam bahasa pengelolaan bisnis modern. Ia sudah melakukannya di Universitas Paramadina. Sebagai rektor, ia merintis Program Beasiswa bernama Paramadina Fellowship yang mengadopsi konsepyang biasa digunakan diuniversitasuniversitas di Amerika Utara dan Eropa.

Dalam pandangan Anis, dalam dunia akademik yang kompetitif, kemampuan menulis menjadi perlu. Penyampaian ide dalam bentukt ulisan akan berharga sekali. Bahkan, dalam membangun peradaban, kemampuan menulis menjadi fundamental. Selain itu, kemampuan berbahasa internasional akan membantu mahasiswa untuk menyampaikan ideidenya. Di era globalisasi ini, akumulasi pengetahuan jangan sampai sia-sia hanya karena dua syarati tu diabaikan.

Selain itu, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, Anies menyadari bahwa hal itu bukan lagi hanya sekadar tanggung jawab pemerintah, Sekolah dan guru melainkan juga tanggung jawab bersama. Itulah Sebabnya ia menggagas program Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) pada 2009. Ia mengajak putraputri terbaik dari seluruh Indonesia yang terdidik, berprestasi dan memiliki semangat juang untuk bekerja sebagaiguru Sekolah Dasar selama satu tahun dan dikirim ke daerah-daerah pelosok Indonesia, la meyakini, meski GIM tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan di Indonesia, setidaknya dengan GIM dan kehadiran tenaga guruyang terbaik ini bisa mendorong pemerataan kualitas pendidikan di Tanah Air, khususnya di daerah terpencil.

Sejak GIM digagas, banyak anak-anak muda yang tertarik untuk bergabung. Mereka tamatan dari berbagai universitas ternama seperti Universitas Indonesia (UI, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Paramadina, Institut Teknologi Surabaya, dan Universitas Hasanuddin dengan nilai kelulusan atau IP rata-rata di atas tiga. Mereka berangkat atas keikhlasan sendiri, bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaannya yang Cukup menjanjikan. Dengan satu tujuan mereka ingin menjadi inspirasi dan cahaya bagi para siswa yangkurang beruntung didaerah terpencil.

Orang-orang muda berusia di bawah 25 tahun yang bergerak di bawah naungan Yayasan Indonesia Mengajar ini siap dengan kemungkinan mereka akan berhadapan dengan warga dan murid-murid yang belum tahu berbahasa Indonesia, penginapan di desa yang hanya sekadarnya, transportasi dan listrik yang belum ada, maupun makanan yang ala kadarnya. Selama mengajar, mereka memang akan mendapat gaji sebesar Rp 32 juta hingga Rp ,8juta. Kemudian usai mengajar selama satutahun, merekajuga akan diberikesempatan untuk memulaikarier sesuai bidangyang diminati di perusahaan-perusahaan yang bermitra dengan Yayasan Indonesia Mengajan.

Menanggapi Semangat mereka, Anies yang menjabat Ketua Yayasan Indonesia Mengajar mengatakan bahwa itu murni dari hati peserta. Program ini merupakan bagian dari upaya untuk mengisi kekurangan guru ditingkat sekolah dasar dipelosok Indonesia. Para pengajar muda dikirim ke daerah terpencil, misalnya ke Bengkalis (Riau, Tulang Bawang Barat (Lampung), Passer (Kalimantan Timur, Majene (Sulawesi Barat) dan Halmahera Selatan (Maluku Utara).

Pemerintah sangat mendukung program inikarena GIM menjadi satu contoh inisiatif masyarakat untuk mendukung upaya menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas. Sedangkan pengusaha Arifin Panigoro, pemilik Medco Group, mendukung program ini karena pendidikan, menurutnya, merupakan tonggak utama kemajuan bangsa. Sementara Indika Energiyang merupakan salah satu sponsor kegiatan ini, melalui Presiden Direktur M. Arsjad Rasjid berharap kegiatan ini dapat menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.

Sejak GIM digagas, Yayasan Indonesia Mengajar telah berhasil mendidik dan mengirimkan Pengajar Muda ke berbagaidaerah. Dari empat gelombang yang sudah dilakukan, sebanyak 241 generasi muda terpilih telah ditempatkan di134 desa di 16 kabupaten di Indonesia. Anies sendiri mengatakan, Indonesia Mengajar merupakan sebuah ikhtiar untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Categories: Uncategorized Tags:
December 30th, 2014 Leave a comment Go to comments