Home > Uncategorized > Mengenal Azrul Ananda Sosok Pemimpin Masa Depan

Mengenal Azrul Ananda Sosok Pemimpin Masa Depan

Apa dan Siapa Sosok Azrul Ananda?

Azrul Ananda, anak muda parlente dengan tinggi badan 176 cm dan berat badan 74 kgyanglahir pada 4 Juli1977. la alumnus Ellinwood High School, Kansas, USA dan California State University Sacramento, 1999.

Azrul Ananda merupakan putra dari Dahlan Iskan, mantan pemimpin PLN yang kemudian dipercaya untuk menjadi Menteri BUMN. Selain itu ayah Azrul Ananda juga CEO Jawa Pos Group. Azrul Ananda mengenyam pendidikan di Ellinwood High School, selama di Kansas, penerima beasiswa pertukaran pelajar ini tinggal di rumah Orang tua angkat yang juga bergelut di dunia koran. Lengkaplah Sudah lingkungan Azrul Ananda memiliki orang tua kandung dan orang tua angkat yang berkecimpung di dunia Koran dan Jurnalistik.

Setelah lulus SMA, Azrul Ananda mengambil kuliah ilmu periklanan lalu ia beralih ke fakultas Internasional Marketing California State University Sacramento dan lulus tahun 1999 dengan predikat cumlaude. Sekembalinya ke Indonesia tahun 2000 Azrul Ananda langsung terjun ke dunia jurnalistik.

Ia meminta untuk bergabung di Jawa Pos. Pada awalnya permintaan itu tidak serta merta diterima oleh Ayahnya. Tetapi ia bersikeras dan berencana bergabung dengan kompetitor Jawa Pos yakni Kompas, jika memang tidak diterima bekerja di Jawa Pos, Akhirnya Ayahnya pun menerima dan ia ditempatkan sebagai wartawan.

Anak Muda yang Penuh Inovatif

Setelah diterima sang ayah dan bergabung di Jawa Pos, Azrul mewujudkan idenya untuk menyelipkan halaman khusus anak muda di dalam Koran Jawa Pos pada 26 Februari 2000, halaman untuk sarana ekspresi anak muda dan dikerjakan oleh anak muda Deteksi. Tanggal 13 Oktober 2001 sampai 15 Oktober 2001 Deteksi semakin menyita perhatian dengan membangkitkan ketertarikan pelajar akan majalah dinding melalui Deteksi Mading Championship I untuk Pelajar SMA Jawa Timur, kompetisi majalah dinding yang kemudian diadakan Setiap tahun dengan jumlah peserta dan tingkat kreatifitas yang terus meningkat.

Peluncuran Deteksiyang membidik anak muda sebagai pasarnya Sendiri bukan tanpa alasan tetapi berdasarkan fakta bahwa 35% dari penduduk Indonesia berusia dibawah umur 25 tahun, maka membuat anak muda tertarik untuk selalu membaca Jawa Pos merupakan salah satu cara untuk membuat Jawa Pos tetap jaya di masa depan.

Inovasi Azrul Ananda mulai merambah dunia olahraga dengan mengadakan liga basket dengan peserta lagi lagi anak muda. Karena birokrasi Universitas yang dianggap terlalu berbelit dan berbeda-beda membuat Azrul Ananda memutuskanbahwapeserta DBLadalah pelajar SMA. Ini mula mula ditempuh dengan menyebar iklan ke sekolah-sekolah setingkat SMA Deteksi Basketball League (DBL) pertama pada17 Juli 2004 – 7 Agustus 2004 di Surabaya diikuti oleh 100 peserta. Sebuah bukti bahwa untuk menjadi liga olahraga terbesar tidak harus dimulai di Jakarta, Deteksi Basketball League disambut dengan antusias oleh dunia basket tanah air dan menjadi liga basket pelajar terbesar di Indonesia.

Semangat muda yang dimiliki dan prestasi yang diraih, membuat ia secara perlahan naik jabatan. Posisi Redaktur olahraga adalah posisi berikutnya. Pada tahun 2005, ia menjadi Pimpinan Redaksi. Dan pada tahun 2007, ia menempati posisi Kepala Pemasaran Produksi. Prestasinya yang kian cemerlang, pada November 2011, Azrul menjadi direktur Grup Jawa Pos

Setelah Jawa Pos memiliki halaman untuk anak muda Deteksi, Azrul Ananda melengkapinya dengan halaman tentang usia lanjut Evergreen, halaman yang berisi kisahkisah para lansia dengan membidik Pembaca berusia 50 tahun ke atas.

AZrul Dan Basket

Azrul Ananda adalah salah satu anak muda Indonesia yang barangkali bisa disebut sebagai salah satu orangyang berperan danberkontribusibagidunia basket Indonesia. Azrul Ananda dan dunia basket seolah tak bisa dipisahkan. Kedua pernyataan diatas tentu takberlebihan, sebab memang pada kenyataannya ia memberikan warna baru pada dunia basket Indonesia khususnya kompetisi liga basket nasional.

Ia telah membuat berbagai program untuk meningkatkan gairah kompetisi basket Indonesia semenjak bergabung dengan Jawa Pos. Itulah Salah Satu kepedulian dan kecintaannyapada dunia basket dan tentunya demi peningkatan kualitas olahraga basket Indonesia secara

Di tengah semakin merosotnya prestasi kompetisi liga basket nasional, Perbasi menunjuk DBL Indonesia untuk menangani kompetisi ini dan mengubah namanya menjadi National Basketball Leage (NBL) Indonesia pada tahun 2010. Karena kegemaran dengan basket ini, Azrul Ananda merintis sampaimenjadi Direktur PT Development Basketball League (DBL) Indonesia. Ia juga merupakan Direktur PT Deteksi Basket Lintas Indonesia (DBL, yang menangani kompetisi basket pelajar).

Azrul, Basket, dan Dunia Olahraga

Kita tahu, dalam usianya yang masih sangat muda (33 tahun), Azrul telah mengukir prestasi di bidang pembinaan olah raga yang tidak ada duanya, khususnya di cabang olah raga bola basket. Tidak banyak anak muda seusianya yang dapat menyamai prestasinya. Setiap anak muda, khusuSnya para pelajar diseluruh Indonesia, pasti tidak asing lag idengan kiprahnya dalam membina olahraga basket.

Development Basketball League (DBL) Youth Events telah bermetamorfosa menjadi Indonesia’s Biggest Student Basketball Competition, secara cepat dan mencengangkan, di tengah dahaganya talenting atau pembinaan atlit muda di Indonesia. Bayangkan, kompetisi yang dimulai dari tahun 2004, atau tahun yang sama dengan tahun ketika Mark Zuckerberg memperkenalkan Facebook pertama kali, kompetisi bola basket anak muda itu kini telah menjadi events olahraga yang paling ditunggu – tunggu oleh anak muda Indonesia.

Seperti halnya Facebook, DBL Youth Events dibidani dan diorganisir oleh anak-anak muda, dimulai dari waktu yang bersamaan, dan Sama-sama meraih prestasi di bidangnya masing-masing dalam waktu yang singkat dan spektakuler. Hanya kalau Facebook merajai dunia informasi dan komunikasi global, DBL Youth Events merajai dunia olah raga basket tanah air, Keduanya memperoleh apresiasi dan penghargaan, meskipun berbeda level. Facebook di tingkat dunia, sementara DBL ditingkat nasional.

Meskipun DBL kini juga mulai berani merambah dunia dengan kerja Sama yang dijalin dengan NBA. Saya tidak tahu, apakah kesuksesan DBL diilhamioleh keberhasilan Facebook. Semoga saja tidak. Dengan cakupan penyelenggaraan DBL yang menjangkau 21 kota di 18 provinsi, yang melibatkan lebih dari 1000 tim dan 25,000 partisipan adalah buktinya. Apalagi setelah keberhasilan – keberhasilannya tersebut kemudian mulai tahun 2010 DBL dipercaya untuk melakukan take over atas pelaksanaan kompetisibola basket profesional Indonesia, Indonesian Basketball League (IBL).

Terlepas dari tangan dingin yang dilakukan oleh Azrul Ananda, nampaknya peran publikasi atau media adalah kontributor utama kesuksesan acara ini. Tentu Saja tanpa mengabaikan profesionalisme individu maupun profesionalisme institusi penyelenggara, serta peran sponsor maupun para partisipan. Gegap gempita pemberitaan media, dalam hal ini Jawa Pos Group yang tersebar di seluruh Indonesia membuat kompetisi ini menjadi Semarak, menggairahkan, membanggakan, menjulat keinginan untuk berprestasi. Benar-benar exciting and fascinating competition.

Besarnya peran media inilah yang kadang mengusik perhatian sebagian orang, mengapa sampai Saat initidakada lagi anak-anak muda seperti Azrul Ananda yang kebetulan memiliki modal media Jawa Pos Group untuk mengikuti jejaknya? Seandainya ada sepuluh orang saja anak muda yang memiliki visi yang sama dan yang kebetulan memiliki media yang berpengaruh, apakah itu media cetak atau elektronik mengikuti jejaknya, pastilah ada Sepuluh Cabang olah raga yang dapat dikembangkan. Apalagi kalau ada sejuta Azrul Ananda baru.

Mungkin saja prestasi olahraga nasional tidak Seburuk saat ini. Yang patut disayangkan, media nasional lebih disibukkan dengan berita berita konsumtif di bidang olah raga, sementara yang produktif diabaikan. Banyaknya media yang hanya memberitakan atau melakukan publikasi berita atau tayangan olah raga asing, tanpa diimbangi dengan upaya – upaya yang lebih produktif seperti memfasilitasi bergulirnya kompetisi olah raga nasional, itulah salah satu biang keterpurukan olah raga Indonesia. Jawa Pos Group sudah on the right track, dengan memberikan porsiyang seimbang antara pembinaan olah ragayang bersifat konsumtif dengan yang bersifat produktif, meskipun baru sebatas olah ragabola basket.

Sayang, Azrul belum mengembangkan ke bidang olah ragayanglain, dan masih terfokus pada basket. Ketika ini coba ditanya kepada Azrul, mengapa tidak memperluas cakupan pembinaan ke cabang olah raga lain? Selalu dijawab, hanya ingin membina bola basket saja, supaya fokus. Tokoh cabang olah raga lain sudah ada pembinanya masing-masing. Namun sesungguhnya, pola pembinaan sepertiyang dilakukan Azrul Ananda, akan sangat tepatjika juga diaplikasikan ke cabang olah raga lain.

Tampaknya, Azrul akan sangat bagus jika membina olahragayang dimainkan atlit tunggal juga, dan bukan regu. Paling tidak ada 1 (Satu) lagi cabang olah raga individual, bukan olah raga beregu yang masih dapat dibinanya tanpa kehilangan fokus. Apakahitu cabangolah raga renang, atletik, tinju atau lainnya. Cabang olah ragayang disebut terakhir ini memiliki kemungkinan berprestasiyang lebih baik di level regional maupun global. Alasan supaya fokus menurut saya kurang relevanjika dikaitkan dengan rendahnya prestasi olah raga kita Saat ini.

Tambahan satu cabang olah raga untuk dibina oleh Azrul Ananda, khusuSnya cabang olah raga yang lebih berpotensi untuk mendulang medali emas ditingkat regional dan global. Ini mungkin masih dapat dilakukan oleh seorang Azrul Ananda. Apalagi jika lebih dari Satu cabang olah raga. bagus itu, kita belum melihat adanya Azrul Ananda baru. Padahal untuk mendongkrak prestasi olah raga nasional masih diperlukan sejuta Azrul Ananda baru. Ini adalah langkah terobosan (bukan jalan pintas) bagi Azrul Ananda untuk mendunia seperti Mark Zuckerberg dengan Facebooknya.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini pembinaan olah raga nasional selalu melibatkan pemerintah secara langsung maupun tidak langsung, dengan berjubelnya para birokrat, baik yang masih aktif apalagiyang Sudah pensiun dalam pembinaan olah raga nasional.

Namun, peran birokrat yang berlebihan akan kontra produktif, karena mereka sulit untuk fokus, ditengah upayanya untuk melayani dan menyejahterakan masyarakat dibidang lainnya. Karena tugas dan kewajiban mereka sudah sangatbanyak. Disisi yang lain, penguasaan danayang masih bersumber dari anggaran belanja negara dan anggaran belanja daerah tentu saja tidak dapat mengabaikan peran birokrat, khusuSnya dalam kelancaran pendanaan.

Maka kita bisa menjadi lebih terkagum kagum lagi, setelah mengamati bahwa DBL diorganisir secara profesional oleh pihak swasta, dengan meminimumkan peran birokrat (baca: pemerintah) dalam pelaksanaannya. Apalagi pola pembinaan yang selama ini melibatkan sponsor dari produsen Rokok atau minuman beralkohol amat sangat ditentang oleh AZrul Ananda.

Menurutnya, ke depan, peran sponsor dari industri rokokatau minuman beralkohol pastiakan berkurangkarena ketatnya regulasi dan isu lingkungan. Hal tersebut sudah dirasakan ditingkat global, sementara dilevel nasional belum banyak yang menyadarinya. Apalagi olah raga seharusnya tidak boleh dikonotasikan dengan produkproduk yang bertentangan dengan kesehatan, karena kesehatan adalah modal dalam pencapaian prestasi tinggi di bidang olah raga.

Dengan kemauan dan prestasinya itu, seorang Azrul Ananda suatu saat nanti akan dinobatkan sebagai pembina olah raga terbaik tingkat nasional atau bahkan tingkat global, asal berani melakukan gebrakan – gebrakan pembinaan olah raga tidakhanya bola basket, dan berani meninggalkan alasan Supaya fokus. Infrastruktur dan modal untuk itu Sudah ada, tinggal keberaniannya saja. Sebab posisi azrul sebagai pemilik media yang bertiras besar, sangat bagus untuk itu.

Mengurai benang kusut keterpurukan prestasi olah raga nasional memang tidak mudah. Memerlukan waktu, dana, profesionalisme, dan tingkat fokus yang lebih tinggi, yang lebih besar daripada yang ada sekarang. Namun satu contoh pola pembinaan yang dilakukan azrul sudah nyata diaplikasikan dalam DBL dan Cukup berhasil. Salah satu benih prestasi khusus yang tidak banyak orang bisa melakukannya.

Azrul Ananda, Energi Muda Jawa Pos

Lelaki muda berperawakan sedang mengenakan stelan semi resmi celana panjang dipadu dengan kaos sport yang dibalut blazer berwarna gelap lengkap dengan sepatu Sport berlari kecil saat namanya dipanggil ke atas panggung. Para ABGyang memenuhi ballroom Pakuwon Indah, Surabaya tak henti hentinya bertepuk sorak setiap kali dirinya mengobarkan semangat mereka. Selesai memberi sambutan, lelaki muda yang ganteng dan takpernah lepas tersenyum itu oleh panitia diajak mendekat ke bangku VIP oleh anak-anak muda usia SMA yang geloranya berapiapi. Inilah keseharian Azrul Ananda, tokoh muda enerjik yang merupakan energy baru Jawa POS.

Dengan langkah meyakinkan, Azrul lalu pamit dan berpesan kepada panitia agar tak lupa mengajak Siswa SMA berkeliling serta memastikan jadwal, disela berlangsungnya pemilihan DetEksi Model yang diselenggarakan DetEKSi Mading Championship. Beragam mading /3D karya siswa dari berbagai SMA di Surabaya dan sekitarnya dipamerkan untuk dinilai oleh juri Sesekali muncul rombongan siswa yang meneriakkan yelyel kebangsaan yang juga dilombakan untuk menarik perhatian pengunjung. Tak ketinggalan adalah para ABG yang menenteng beragam jenis kamera untuk mengabadikan momen yang menarik.

Mereka tak sekedar memotret tapi sesekali mencatat sesuatu di buku yang selalu ditenteng ke sana kemari. Ternyata mereka adalah para peserta Blog Competition salah Satu kegiatan yang juga dilombakan; hal ini tampakjelas dari tulisan di belakang kaos yang mereka kenakan.

Itu adalah potongan kompetisi madding DetEksi (sisipan kolom Koran Jawa Pos, yang khusus menjadi ajang ekspresi para remaja) yang dipelopori azrul dan diselenggarakan di PTC Pakuwon. Di lembaran khusus DetEKsi hampir seluruhnya berisi liputan kegiatan yang tulisan berikut gambarnya disiapkan oleh anak-anak muda.

Beragam kegiatan untuk menyalurkan bakat anak muda diselenggarakan dibawah bendera DetEksi diantaranya yang berlangsung di Pakuwon itu. DetEKsi lalu mengembangkan sayap dengan membuat brand activity DBL (Development Basket League) yang kemudian menjadi PT DBL Indonesia (DetEKsi Basket Lintas Indonesia)yang khusus mengadakan lomba basket antar pelajar.

DBL pertama kali diselenggarakan pada 2004 hanya dikhuSuskan bagi kalangan pelajar di Surabaya, lalu merambah ke Jawa Timur karena permintaan pelajar dari kota-kota lainnya. Pada tahun 2008 mulai berkolaborasi dengan NBA dengan pertandingan dilakukan di DBL Arena gedung basket Sendiri yang berdiri dalam satu kawasan dengan Graha Pena Surabaya.

Tahun 2010 DBL dilaksanakan di 25 kota di 10 propinsi Indonesia karena minatyang Cukup tinggi dari para pelajar Indonesia untuk mengikuti kegiatan tersebut. Hanya pelajar berprestasi yang boleh mengikuti kegiatan ini artinya disamping bisa bermain basket; mereka adalah pelajar dengan prestasi akademik yang bagus disekolahnya.

Para pelajar dan pelatih yang memenangkan beberapa kategori dalam turnamen, mendapat beasiswa dan kesempatan untuk tanding basket internasional keluar negeri seperti Australia dan Amerika. Mereka tergabung dalam team DBL All Star yang terpilih dari hasil seleksi di DBL Camp. Mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik hasil seleksi di DBL Competition yg berhasil lolos ikut DBL Camp dan memiliki kesempatan mengikuti coach clinic dengan pemain NBA.

Kesuksesan DBL membuat perwakilan klub basket peserta Indonesia Basketball League (IBL) meminta DBL untuk mengelola kompetisi basket antar klub di Indonesia yang sebelumnya dikenal dengan Kobatama itu. Maka pada 2010 PT DBL Indonesia melakukan rebranding mengganti nama IBL menjadi NBL Indonesia (National Basketball League Indonesia). Beberapa kegiatan inilah yang diliput DetBKsi dan menjadi ajang anak muda untuk menyalurkan energinya. DetEKsi juga menjadi senjata Azrul sebagai energy muda Jawa Pos, dan merupakan Suatu pembaruan pada Koran raksasa ini.

Berkat DetEKsi jawa Pos mendapat predikat Newspaper of The Year, World Young Reader Prize 2011 di Wina 12 Oktober 2011 lalu, yang merupakan Top Prize Enduring Excellence, yakni catatan tentang konsistensi dalam menghasilkan karya superior.

Deteksi Peduli Mengakomodasi Anak Muda

Seperti sedikit disinggung diatas, Deteksi, halaman anak muda, di koran Jawa Pos telah mengantarkan koran besutan Dahlan Iskan menyabet gelar Newspaper of the Year dari World Young Reader Prize 2011. Penghargaan ini diterima oleh Direktur Utama Jawa Pos Azrul Ananda di Wina. Kehadiran Deteksi memang fenomenal. Kolom anak muda ini hadir dengan mengembuskan kesegaran baru bagi Jawa Post yang Sebelumnya lebih terkesan Sebagai koran untuk pembaca dewasa sekaligus Islami. Sejarah kehadiran Deteksi pun unik dan penuh kesengajaan. Orang di balik hadirnya kolom anak muda ini taklain adalah Azrul Ananda.

Azrul yang akrab disapa dengan sapaan Ulik itu mendirikan DetEksi. Di tangan lulusan pemasaran California State University itu, DetEksidalam waktu singkat digandrungi anak muda dan Sontak mengubah citra Jawa Pos menjadi lebih muda. Azrul menilai Jawa Pos terlalu banyak tulisan serius dan kental berita politiknya. Saat menjabat sebagai Pemred Jawa Pos, anak muda kelahiran Samarinda pada itu mampu membawa koran ini makin diminatipembaca dengan jangkauan ekspansi distribusi yang lebih luas. Bahkan, DetEksi diklaim sebagai kolom anak muda pertama di koran Indonesia.

Yang menarik dari kolom DetEksi adalah kolom anak muda ini digawangi oleh dari dan untuk orang muda. Darah muda Azrul juga mengalir dalam kolomkolom Jawa Pos. Bahkan, Sepertiyang ditegaskan di atas, halaman anak muda ini menjadi tempat dirinya mengekspresikan jiwa mudanya. Apa yang menjadi kebutuhan dan kesenangannya Sebagai anak muda ia terjemahkan dalam rubrikasi.

Azrul puntidakhanya menyuguhkansajian menghibur dan populer anak muda dalam bentuk tulisan dan grafis. DetEksi melakukan brand activation dengan menggelar lomba majalah dinding (mading) yang dikenal dengan DetEksi Mading Championship sekarang dikenal DetEksi Convention yang dimulai pertama kali pada 13-15 Oktober Target lomba ini adalah komunitas pelajar, Dari sinilah, DetEksi semakin digandrungi oleh anak muda. Anak muda yang doyan membaca, inilahyang menjadi Salah Satu impian Azrul saat membuka kolom muda tersebut.

Olahraga juga dijadikan Sarana. Azrul memang doyan olahraga. Selain basket tentunya, Azrul sangat menggemari bola dan menjadi pebulu tangkis andal. Pada tahun 19931994, Azrulikut dalam pertukaran pelajar di Ellinwood High School di Kansas. Disini, ia ikut mengerjakan koran sekolah. Dikoran sekolah ini, ia memilih sebagai fotografer tim basket. Dari sini, ia mulai mengenal dan belajar basket. Pada tahun 2004, Azrul membuat brand activity DetEksi berupa kompetisi basket tingkat SMA di Surabaya. Respons anak muda cukup besar. Inilah yang menjadi cikal bakal DBL Development Baskell Leaque (DBL) yang tenar saat ini.

Dalam buku terbitan MarkPlus berjudul Anxieties Desires (2010), Salah Satu kebutuhan anak muda adalah olahraga. Di balik olah raga, ada kebutuhan lebih mendasar yakni kebebasan berekspresi. Dan, tampaknya, Azrul sebagai orang muda yang doyan olahraga Sukses menghadirkan sesuatu yang juga dicari oleh banyak anak muda. Boleh dibilang pada tahap ini, Azrul mampu menangkap anxietydesire anak muda. Dan, DetEksi pun Sukses mendeteksinya dan meresponsnya dalam kolom bacaan tersebut.

Bahkan, usaisukses dengan DetEksi, Jawa Posmembuat halaman For Her yang membidik komunitas perempuan muda urban dan Life Begin at 50 yang membidik komunitas dewasa matang. Passionnya pada anak muda mengantarkan Jawa Pos menyabet penghargaan dunia World Young Reader Prize 2011. Mengalahkan kampiun kampiun surat kabar dunia, seperti The Hindu asal India, Wall Streat Journal dan Chicago Tribune asal Amerika Serikat, dan Yomiuri Shimbun dari Jepang.

Sosok Pemimpin Masa Depan?

Kita tahu, saat ini publik Sedang ramai memperbincangkan Dahlan Iskan, baik pro kontranya. Seorang usahawan awalnyayang Sukses membuat Jawa POS besar, kemudian mulai menekuni kehidupan politik karena ketiban sampurjadibos PLN dan kemudian jadi Mentri BUMN.

Dan public juga tahu, ternyata putranya, Azrul pun tak kalah populer, terutama di kalangan penggila basket. Azrul Ananda, kini adalah tokoh penting bagi kemajuan olah raga basket, olah raga yang justru cintai ketika dia Sekolah di Sacramento. Lewat kecintaannya pada olah raga itu dan kemajuan generasi muda, dia membangun Sebuah liga pelajar justru bukan dari Jakarta.

Dia membangun dari Surabaya, tempat dia berdomisili setelah pulang dari Sacramento. Kemudian Liga Basket pelajar SMA yang tadinya hanya berkisar di Surabaya, kemudian berkembang ke Malang, Semarang, Jogja, Mataram, Bali, sebagian Kalimantan, Bandungbahkan sampai Ke Jambi. Dengan grand final tetap di Surabaya, bukan Jakarta, sebagai center hidupnya orang Indonesia.

Liga itu tidak sekedar bertanding dan selesai, para pemain yang dianggap potensial dapat kesempatan masuk ke camp pelatihan dengan pemain2 NBA sebagai pelatih juga beberapa pelatih dari Australia juga Amerika. Belum cukup itu saja, pemain2 pilihan dan pelatih pelatih pilihan pundapat kesempatan training dan merasakan bertanding dengan Liga pelajar Australia. Bahkan Deteksi Basketball, nama Liga itu, lebih dikenal di Australia dibanding Basket Indonesia. Kenyataan ini memang ironis, tetapijustru membuat basket dikenal sangat luas di Indonesia.

Liga Deteksi pun tidak mainmain dalam mengadakan lomba. Saranasarana di masing-masing kota dipantau dan dibenahi, seleksinya pun tidak main main, raport anggota tim harus minimal 6 dan tidak boleh pernah tidak naik kelas. Artinya prestasi lapangan dan kelas pun tetap diselaraskan. Juga tidak boleh curang plus tidak terlibat narkoba, sanksinya adalah dicoret kepesertaan sekolah tersebut di deteksi jika ketahuan.

Berkembang dari deteksi, PERBASI pun mempercayakan Azrul lewat Deteksi Basketball untuk mengambil alih IBL (liga basket nasional) menjadi NBL (National Basketball League). Dan NBL pun kini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Setidaknya basket nasional tidak lagi cuma sekedar penggembira di SEA Games.

Dengan bakatnya sebagai pemimpin itu, kini dia menjadi direktur PT Jawa Pos. Memimpin Jawa Pos dengan gaya metodologis dan Sistematis, juga dikelola dengan rapi, tertib, tertulis dan akuntable atau dengan prinsip Good Corporate Governance serta lebih terstruktur.

Melihat sepak terjangnya sekarang, sebenarnya kita tahu bahwa Azrul bisa membawa sepakbola menjadi maju seperti dia membawa basket. Juga berharap, Suatu hari nanti, dia bisa memimpin generasi muda Indonesia menjadi lebih baik. Menjadi menteri olah raga, kenapa tidak? Atau lebih tinggi lagi, menjadi presiden suatu hari nanti Yang jelas, pada diri Azrul, ada potensi untuk menjadi pemimpin masa depan.

Categories: Uncategorized Tags:
December 29th, 2014 Leave a comment Go to comments